Efek ‘Main Character Syndrome’ di Era TikTok: Kapan Hidup Jadi Film & Kapan Jadi Gangguan?

Tadi pagi aku ngeliat temen sekantor — mari kita sebut dia Rara — berdiri di depan cermin lift sambil ngorek-ngorek rambut, nyampein monolog panjang soal “perjalanan cinta” dia ke si kuli lift yang cuma mau tekan angka 12. Si kuli lift cuma ngangguk, wajah datar, udah kebiasaan kayaknya.

Rara itu tipe yang hidupnya kayak film. Hujan turun? Dia bukan kebasahan, dia “menghadapi badai emosional sambil mencari sinar harapan di tengah kegelapan.” Dapat promosi? Bukan naik jabatan, tapi “arc karakter yang finally pays off after season 3 of struggle.” Bahkan makan nasi padang aja dia bisa bikin 3-part series TikTok dengan caption “POV: You’re healing your inner child with rendang.”

Awalnya lucu. Lalu jadi aneh. Sekarang? Kadang ngerasa ngalorin.

Apa sih Main Character Syndrome itu?

Gak ada di DSM-5, dokter gak akan diagnosa ini. Tapi istilah ini nge-trend di TikTok sekitar 2020-an buat ngelabelin orang yang benar-benar percaya dunia berputar di sekitar mereka — dan semua orang lain cuma NPC (non-player character) di background.

Bedanya dengan kepercayaan diri sehat? Kepercayaan diri itu “aku punya nilai.” Main Character Syndrome itu “aku adalah nilai, dan kalian cuma penonton.”

Psikolog biasanya ngaitin ini ke narsisme subklinis atau fantasi grandiosa sebagai mekanisme coping. Artinya: gak sampai sakit, tapi cukup gangguin kehidupan nyata. Kayak Rara yang gak bisa dengerin keluh kesah temen tanpa langsung nyambungin ke “cerita hidup” dia sendiri.

TikTok: Pabrik Main Character Terbesar di Dunia

Dulu, kalau mau jadi “main character,” kamu harus jadi artis, idola, atau minimal ketua OSIS. Sekarang? Cukup punya HP, ring light murahan, dan 15 detik attention span.

Algoritma TikTok literally nagradin konten yang personal, emosional, dan “relatable tapi unik.” Format POV (Point of View) bikin user merasa seperti sutradara film sendiri. “POV: You’re the villain in my story but the hero in yours” — caption kayak gini dapet jutaan view karena ngegores ego semua orang.

Masalahnya: otak kita gak bedain “performa” sama “realitas” kalau terlalu sering dilakuin. Ada penelitian 2023 dari Journal of Social Media Psychology yang nunjukin korelasi kuat antara intensitas bikin konten POV personal dengan skor Narcissistic Personality Inventory (NPI) yang naik dalam 6 bulan.

Jadi ya, bikin konten bisa bikin kamu lebih narsistik. Bukan cuma orang narsistik yang bikin konten.

Kapan Hidup Jadi Film (Dan Itu Ok)

Gak semua “main character energy” itu jahat. Kadang justru selamatkin.

Dua tahun lalu aku putus hubungan 5 tahun. Hancur banget. Aku mulai bikin journal video — cuma buat diri sendiri, gak di-post — di mana aku bicara ke kamera kayak aku lagi di wawancara Netflix documentary: “Ini episode di mana dia belajar bangun diri dari nol.” Kecuali, gak ada kamera. Cuma ahu di kamar kost gelap.

Gila? Mungkin. Tapi framing itu bantu aku meng-eksternalkan trauma. Aku jadi penonton sendiri, bukan korban yang lumpuh. Psikolog menyebut ini narrative identity reconstruction — cara otak merapikan kekacauan jadi cerita yang punya arti.

Jadi kalau kamu:

  • Menggunakannya buat motivasi (“Scene ini aku harus bangun, audience nunggu comeback-ku” )
  • Bisa beralih ke perspektif orang lain kapan butuh
  • Gak butuh validasi konstan dari komentar orang asing

Itu bukan syndrome. Itu coping mechanism yang fungsional. Bedanya tipis, tapi nyata.

Tanda-tanda Udah Ke Gangguan (Check Dirimu Sendiri)

“Kalo kamu gak bisa nonton temen sedih tanpa mikir ‘ini bagus buat content-ku,’ itu bukan main character energy. Itu empathy deficit.” — tweet random yang nempel di otak aku seminggu penuh

Gue ngerasain ini sendiri. Semester lalu ada temen dekat curhat dia dikasi tau kanker stadium 2. Reaksi pertamaku di kepala: “Ini plot twist besar buat arc-ku sebagai temen yang supportive. Harus catet buat thread nanti.”

Aku ngerasa najis. Dan itu red flag utama.

Gejala lain yang sering kelewat:

  • Kesulitan merayakan kemenangan orang lain tanpa bandingin sama diri sendiri
  • Konflik kecil terasa seperti “climax film” yang harus kamu menangin
  • Mengedit ulang memori biar kamu kelihatan lebih baik/benar (gaslighting diri sendiri, basically)
  • Merasa personally attacked kalau konten gak viral — kayak dunia berutang budi deh sama kamu

Trick Keluarin Diri dari “Film” Sendiri

Gak perlu hapus TikTok. Aku sendiri masih scroll sambil makan siang. Tapi ada beberapa hal yang bantu aku (dan klien-klien konseling) biar gak kebawa aliran:

1. Latihan “NPC Appreciation”

Sengaja perhatiin orang-orang random: kasir minimarket, ojek online, tetangga sebelah. Bayangin mereka punya cerita hidup sepantasnya kompleks kayak kamu. Bukan buat bikin content. Cuma buat reset perspektif. Aku lakukan ini setiap naik MRT — lihat wajah orang, tebak nama, bayangin dia pulang ke siapa. Lucu banget, tapi efisien banget buat kurangi ego.

2. Aturan “No Camera Rule” untuk Momen Tertentu

Kapan? Saat temen nangis. Saat orang tua sakit. Saat kamu sendiri lagi breakdown. Taruh HP di laci. Beneran. Dunia gak akan hancur kalau momen itu gak ter-dokumen. Malah justru kamu hadir sepenuhnya — yang jauh lebih langka dari viral video.

3. Tanya Diri: “Ini buat siapa?”

Sebelum post, sebelum rekam, sebelum bikin keputusan berbasis “bagaimana ini terlihat” — tanya: Ini buat aku, atau buat audience? Kalau jawabannya campur aduk, taruh dulu. Besok pagi baca lagi. Sering banget aku nge-delete draft pas udah tidur karena esok hari ngerasa cringe.

4. Kurangi Konsumsi Konten “Main Character” Juga

Ini yang paling sulit tapi paling efektif. Algoritma makan apa yang kamu kasih. Kalau FYP kamu penuh orang-orang yang “romantisasi kehidupan” sampai level delusional, otak kamu akan nerima itu sebagai normal. Coba curate feed: follow akun-akun yang nge-share kegagalan, ketidaksempurnaan, humor self-deprecating. Aku rekomendasiin akun @notinteresting atau @dudewithsign — bikin ingat bahwa jadi “biasa aja” itu justru keren.

Oh iya, soal kebiasaan scroll sebelum tidur yang bikin FYP jadi judge & jury kehidupan kamu — aku udah tulis soal doomscrolling sebelum tidur bulan lalu. Baca aja kalau kepo kenapa pagi ini kepalemu terasa kayak ditabrak truk.

Penutup: Kamu Bisa Jadi Protagonis Tanpa Jadi Antagonis Buat Orang Lain

Main Character Syndrome gak soal kamu jahat. Soal kamu terlalu sibuk mainin peran sampai lupa mainin hidup.

Film bagus itu punya ensemble cast yang kuat. Protagonis yang paling diingat — Tony Soprano, Fleabag, Walter White — justru yang paling flawed, paling butuh orang lain, paling sadar kalau dunia gak cuma soal dia.

Jadi besok pagi, coba deh: naik lift, lihat kuli lift di mata, tanya “Apa kabar, Pak?” Bukan buat content. Bukan buat monolog. Cuma buat ngingetin dirimu: dia punya nama, dia punya cerita, dan hari ini dia bukan NPC di film kamu.

Kamu juga gak.

Penasaran gimana caranya bikin profil dating yang nampilin “main character energy” versi sehat — yakni percaya diri tapi gak narsistik? Cek data dari 1 juta user soal hobi apa yang bikin profil jadi magnet. Spoiler: bukan selfie gym.

Shopping Cart
Scroll to Top